Kegiatan pembinaan rohani ini dipusatkan di ruang tahanan lantai 2 Mapolres OKU. Lokasi yang biasanya berkesan kaku diubah menjadi suasana yang lebih religius dan tenang. Seluruh tahanan yang beragama Islam diimbau untuk ikut serta, duduk bersama dalam lingkaran yang penuh kekeluargaan guna mendapatkan siraman rohani serta bimbingan langsung dari para personel kepolisian yang berkompeten di bidang bintal (pembinaan mental).
Program Tanjidor kali ini dipandu langsung oleh jajaran Satuan Binmas (Satbinmas) Polres OKU. Hadir sebagai instruktur utama adalah KBO Satbinmas Ipda Deni Arfan, S.E., M.Si., didampingi oleh Kanit Binkamsa Aipda Medi Arianto dan Banit Binkamsa Aipda Purwanto. Kehadiran para perwira dan bintara ini bukan sebagai petugas jaga yang mengawasi, melainkan sebagai mentor dan saudara yang membimbing para tahanan dalam mempelajari ayat-ayat suci Al-Qur’an.
Dalam pelaksanaannya, para tahanan diberikan bimbingan teknis mengenai cara membaca Al-Qur’an yang benar melalui metode bacaan yang mudah dipahami.
Selain aspek teknis membaca, para peserta juga diberikan pemahaman mendalam mengenai dasar-dasar keagamaan dan tauhid. Hal ini bertujuan agar para tahanan memiliki pondasi iman yang kuat dalam menghadapi ujian hidup yang sedang mereka jalani di balik jeruji besi.
Metode pendekatan yang digunakan oleh personel Satbinmas sangat jauh dari kesan intimidatif. Diskusi dilakukan secara dua arah, di mana para tahanan diberikan ruang untuk berkonsultasi mengenai keresahan batin mereka. Pemberian motivasi untuk memperbaiki diri menjadi poin utama dalam setiap sesi, dengan harapan kegiatan ini dapat memberikan ketenangan batin dan mengurangi tingkat stres atau depresi selama masa proses hukum berlangsung.
Kapolres OKU melalui Kasat Binmas AKP Ujang Abdul Aziz, S.E., yang disampaikan oleh Kasi Humas AKP Ferri Zulfian, menegaskan bahwa Program Tanjidor adalah manifestasi dari konsep Polri Presisi yang humanis. Menurutnya, kepolisian memiliki tanggung jawab moral untuk memastikan bahwa para tahanan tidak hanya menjalani hukuman secara fisik, tetapi juga mendapatkan asupan nutrisi spiritual yang cukup agar tidak mengulangi kesalahan yang sama di masa depan.
"Melalui program ini, kami ingin para tahanan memanfaatkan waktu selama menjalani proses hukum dengan kegiatan yang positif. Dengan bekal ilmu agama dan pembinaan mental, diharapkan mereka dapat memperbaiki diri serta memiliki semangat untuk menjadi pribadi yang lebih baik setelah kembali ke tengah masyarakat," ujar AKP Ferri dalam keterangan resminya. Ia menekankan bahwa sentuhan spiritual ini seringkali menjadi titik balik bagi seseorang untuk bertaubat.
Sebagai penutup, Program Tanjidor diharapkan dapat menjadi model pembinaan yang efektif di lingkungan kepolisian. Polres OKU berkomitmen untuk terus menghadirkan pembinaan yang menyeluruh, mencakup aspek hukum, moral, dan keagamaan. Dengan adanya keseimbangan antara penegakan aturan dan pembinaan karakter, diharapkan para lulusan tahanan Mapolres OKU nantinya dapat diterima kembali oleh masyarakat dengan perubahan perilaku yang nyata dan positif.
(Red)tik